Minggu, 28 Desember 2008

Sindrom Kolon Iritabel

SINDROM KOLON IRITABEL

dr. Putu Melaya – dr. Dekrit SpPD

Mungkin anda pernah mengalami gangguan buang air besar beberapa bulan terakhir ini ? atau anda mengeluh nyeri perut yang hilang setelah buang air besar, disertai feses yang berubah menjadi agak cair atau terjadi perubahan pola buang air besar yang lebih sering dari semula ?.atau tidak lampias setelah buang air besar ?. Apakah anda juga mengalami gangguan tidur disertai sulit konsentrasi dan nyeri badan ? Hubungan faktor psikis dan stres dengan gejala gastrointestinal memang bisa terjadi melalui mekanisme brain-gut axis. Dengan kata lain bahwa faktor psikososial seperti gangguan kepribadian, stres dalam kehidupan, kehilangan pekerjaan, konflik rumah tangga dapat mencetuskan penyakit.

Gejala sindrom kolon iritabel diatas bisa bermanifestasi seperti dominan diare atau dominan konstipasi atau selang seling antara diare dan konstipasi. Diperkirakan 8 – 17% (rata-rata 11%) populasi secara umum menderita penyakit ini, bahkan di negara industri dan negara barat kejadianya hampir 20% populasi dewasa. Beberapa orang mengeluh timbulnya gejala hanya pada saat terdapat stres psikis, sedangkan pada wanita dilaporkan gejala sindrom ini menjelang menstruasi. Beberapa juga mengalami hal ini tidak berhubungan langsung dengan saluran pencernaan seperti nyeri daerah panggul, nyeri saat haid, dispareunia, impotensi, sering buang air kecil (nocturia), atau tidak lampias buang air kecil.

Apakah yang harus anda lakukan ? berobat ke dokter atau menggunakan abat alami dulu ?

Diit makanan yang mengandung serat memperbaiki keluhan konstipasi atau konstipasi yang diselingi diare. Diit rendah gula dapat mengurangi keluhan diare seperti menghindari sorbitol dan manitol sebagai pemanis. Kopi dan coklat sebaiknya dihindari karena dapat menstimulasi aktifitas usus halus, mengurangi lemak untuk mengurangi produksi kolesistokinin. Menelan udara pada saat makan terlalu cepat makan atau sambil bicara, menghisap permen karet, minum soda harus dihindari. Kacang-kacangan yang memproduksi gas dan menimbulkan kembung. Buah yang dihindari seperti apel dan sayur seperti brokoli, kol dan kembang kol.

Psikoterapi yang diberikan mampu mengurangi kecemasan (anxiety) dan depresi yang terjadi bersamaan dengan gejala diatas. Perubahan perilaku ( Cognitive Behavioral Therapy–CBT), psikodinamik atau psikoterapi interpersonal, hipnotis, stress management dan latihan relaksasi mampu meningkatkan kemapuan adaptasi (coping) maupun menyelesaikan masalah.

Farmakoterapi hanya diberikan dengan ditegakkanya diagnosa, yang bertujuan untuk menghilangkan rasa nyeri mengurangi keluhan kembung dan memperbaiki gangguan pola buang air besar.

Psikofarmaka dengan pemberian anti depresan yang memiliki efek antikolinergik.

Sindrom ini merupakan gangguan fungsional yang disebabkan oleh interaksi berbagai faktor biologis dan faktor psikososial. Penanganannya juga melibatkan pertimbangan faktor psikososial tentunya.

dr. Putu Melaya

Asisten Penyakit Dalam Bagian ICU RSUD Buol

Tidak ada komentar:

Posting Komentar