Rabu, 31 Desember 2008

Kunjungan Dokter Ahli Jiwa

dr. Dewi SpKJ

Keluhan Utama Pasien masuk Poliklinik:
  • Fisik Murni
  • Psikosomatis
  • Mental Emosional

Psikosomatis ; keluhan biasa yang dirasakan :
  1. dyspepsia
  2. hipertensi
  3. sesak.

Mental emosional ; sering dikeluhkan adalah : gangguan cemas
  • depresi
  • psikotik, masuk didalamnya juga adalah;
  1. Obat Narkoba
  2. Anak Remaja
Yang termasuk masalah apada anak dan remaja meliputi; Enuresis, Mental Retardasi, Autis, Gangguan Tingkah Laku, Hiperatif.

Secara statistik epidemiologi diperkirakan 20-30 % kunjungan poliklinik menderita gangguan masalah dan 10-20 % mengalami gangguan jiwa.

Anamnesis yang harus ditanyakan adalah :
  1. apakah sering sakit ? Berapa kali dalam sebulan.... Berapa kali dalam setahun.....
  2. stresor/pencetusnya apa kira-kira? Konflik Rumah Tangga... Masalah Keuangan .... dll
  3. pengaruh terhadap pekerjaan/sekolahnya ?
Penanganan :

Psikosis ; CPZ 100 mg 2 x 1
Haloperidol 1,5 mg 2 x 1
Parkinson ;
Trihexiphenidyl 2 mg 2 x 1
Diazepam 5 mg 2 x 1
SA injeksi 0,25 mg IM
Delledryl 2 cc IM
Diazepam injeksi IM dengan syarat normotensi.
Gangguan Cemas ;
Diazepam 5 mg 2 x 1
Alprazolam 0,5 mg 2 x 1
Clobazam 10 mg 2 x 1
Anti Depresan ;
Amitriptylin jarang.... bersifat Cardiotoxic
Maprotiline 50 mg 2 x 1
Fluocetin/Kalxetin
Sandepril, Ludiomil.

Pemberian selama 2 bulan....dilanjutkan dilanjutkan dengan maintenance 2 minggu kemudian diberikan secara Tapering off.
Kunjugan 30 Desember 2008.

Minggu, 28 Desember 2008

Sindrom Kolon Iritabel

SINDROM KOLON IRITABEL

dr. Putu Melaya – dr. Dekrit SpPD

Mungkin anda pernah mengalami gangguan buang air besar beberapa bulan terakhir ini ? atau anda mengeluh nyeri perut yang hilang setelah buang air besar, disertai feses yang berubah menjadi agak cair atau terjadi perubahan pola buang air besar yang lebih sering dari semula ?.atau tidak lampias setelah buang air besar ?. Apakah anda juga mengalami gangguan tidur disertai sulit konsentrasi dan nyeri badan ? Hubungan faktor psikis dan stres dengan gejala gastrointestinal memang bisa terjadi melalui mekanisme brain-gut axis. Dengan kata lain bahwa faktor psikososial seperti gangguan kepribadian, stres dalam kehidupan, kehilangan pekerjaan, konflik rumah tangga dapat mencetuskan penyakit.

Gejala sindrom kolon iritabel diatas bisa bermanifestasi seperti dominan diare atau dominan konstipasi atau selang seling antara diare dan konstipasi. Diperkirakan 8 – 17% (rata-rata 11%) populasi secara umum menderita penyakit ini, bahkan di negara industri dan negara barat kejadianya hampir 20% populasi dewasa. Beberapa orang mengeluh timbulnya gejala hanya pada saat terdapat stres psikis, sedangkan pada wanita dilaporkan gejala sindrom ini menjelang menstruasi. Beberapa juga mengalami hal ini tidak berhubungan langsung dengan saluran pencernaan seperti nyeri daerah panggul, nyeri saat haid, dispareunia, impotensi, sering buang air kecil (nocturia), atau tidak lampias buang air kecil.

Apakah yang harus anda lakukan ? berobat ke dokter atau menggunakan abat alami dulu ?

Diit makanan yang mengandung serat memperbaiki keluhan konstipasi atau konstipasi yang diselingi diare. Diit rendah gula dapat mengurangi keluhan diare seperti menghindari sorbitol dan manitol sebagai pemanis. Kopi dan coklat sebaiknya dihindari karena dapat menstimulasi aktifitas usus halus, mengurangi lemak untuk mengurangi produksi kolesistokinin. Menelan udara pada saat makan terlalu cepat makan atau sambil bicara, menghisap permen karet, minum soda harus dihindari. Kacang-kacangan yang memproduksi gas dan menimbulkan kembung. Buah yang dihindari seperti apel dan sayur seperti brokoli, kol dan kembang kol.

Psikoterapi yang diberikan mampu mengurangi kecemasan (anxiety) dan depresi yang terjadi bersamaan dengan gejala diatas. Perubahan perilaku ( Cognitive Behavioral Therapy–CBT), psikodinamik atau psikoterapi interpersonal, hipnotis, stress management dan latihan relaksasi mampu meningkatkan kemapuan adaptasi (coping) maupun menyelesaikan masalah.

Farmakoterapi hanya diberikan dengan ditegakkanya diagnosa, yang bertujuan untuk menghilangkan rasa nyeri mengurangi keluhan kembung dan memperbaiki gangguan pola buang air besar.

Psikofarmaka dengan pemberian anti depresan yang memiliki efek antikolinergik.

Sindrom ini merupakan gangguan fungsional yang disebabkan oleh interaksi berbagai faktor biologis dan faktor psikososial. Penanganannya juga melibatkan pertimbangan faktor psikososial tentunya.

dr. Putu Melaya

Asisten Penyakit Dalam Bagian ICU RSUD Buol

Kamis, 25 Desember 2008

dr. Maryati Ismail


Betalaktam untuk pengobatan Demam Tipoid:

Ampicillin 4 x 1 gram selama 2 minggu
Amoxicillin 50 - 150 mg/kgBB/ hari selama 2 minggu
Sefiksim 10 - 15 mg/kgBB/hari sepuluh hari
Seftriakson 2 gram/ hari selama enam hari


Kapan Sebaiknya Vaksin HPV ?

Para pakar menganjurkan pemberian vaksin HPV diberikan pada saat remaja sebelummelakukan aktivitas seksual. Advisory Committee on Immunization Practices merekomendasikan imunisasi HPV diberikan pada remaja putri usia 11 - 12 tahun.


Pemberian Vaksin HPV berdasarkan :
  1. Infeksi HPV tertinggi pada remaja.
  2. Pemberian vaksin HPV terbukti kadar antibodi pada remaja.
  3. Dari survei melalui kuisioner yang dikirimkan kepada dokter keluarga dan dokter anak (response rate 59%), anak umur 9 - 12 tahun lebih banyak berhubungan dengan petugas kesehatan.
  4. Sebaiknya vaksinasi HPV diberikan sebelum melakukan aktivitas seksual.

Rabu, 24 Desember 2008

Selamat Tahun Baru Hijriyah 1430

SELURUH STAF DAN DIREKSI RSUD BUOL
MENGUCAPKAN
SELAMAT TAHUN BARU 1430 HIJRIYAH




dr. Hi Syafriudin Puili
Direktur RSUD Buol

NATAL DAN TAHUN BARU 2009

SELURUH STAF DAN DIREKSI RSUD BUOL
MENGUCAPKAN

SELAMAT NATAL
DAN
TAHUN BARU 2009
SEMOGA DAMAI NATAL MENYERTAI LANGKAH KITA DITAHUN BARU NANTI


dr. Hi. Syafriudin Puili
Direktur RSUD Buol

Selasa, 23 Desember 2008

Kemitraan Bidan Dukun

KEMITRAAN BIDAN DUKUN VS PENDAMPINGAN KELUARGA DAN PENURUNAN AKI - AKB DI SULAWESI TENGAH

oleh

Putu Melaya

Tujuan pembangunan Millenium.

Banyak metode yang dikembangkan untuk mendukung usaha penurunan AKI dan AKB di Sulawesi Tengah guna mewujudkan Millenium Development Goals (MDGs) yang salah satu tujuannya yang ke empat adalah menurunkan kematian ibu tiga per empat dari tahun 1990-2015 dan kematian anak dua pertiga dari tahun 1990-2015. Salah satu upaya tersebut adalah penyebaran tenaga kesehatan keseluruh desa yang didukung dengan program Desa Siaga. Program ini berhasil baik bila menggunakan indikator kesejahteraan rakyat, seperti di kelurahan yang dekat dengan kota perlu desa siaga yang dimodifikasi, penyiapan kepekaan petugas kesehatan (bidan, perawat di desa) yang belum sepenuhnya tinggal di desa selama 24 jam, dan kepekaan para pengambil keputusan belum sepenuhnya faham tentang tanda-tanda bahaya pada ibu hamil. Pengambil keputusan yang paling dominan di daerah pedesaan (rural area) adalah pihak yang jauh dari aspek gender.

Tujuan Jangka Menengah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Presiden telah menetapkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2004-2009. Pembangunan kesehatan yang merupakan bagian dari pembangunan sumber daya kesehatan, tercantum dalam Bab 28. sasaran yang harus dicapai oleh pembangunan kesehatan adalah :

  1. Meningkatkan umur harapan hidup dari 66,2 tahun menjadi 70,6 tahun.
  2. Menurunnya angka kematian bayi dari 45 menjadi 26 per 1.000 kelahiran hidup.
  3. Menurunnya angka kematian ibu melahirkan dari 307 menjadi 226 per 100.000 kelahiran hidup.
  4. Menurunnya prevalensi gizi kurang anak balita dari 25,8% menjadi 20%.

Kesehatan Reproduksi Kaum Wanita

Berbicara tentang kesehatan reproduksi pada wanita harus memulainya dari masa prekonsepsi, masa ini juga diawali dengan masa anak-anak dan diakhiri pada masa menopause. Kesehatan perinatal yang melibatkan banyak faktor yang sering diadaptasi yang dikembangkan oleh Evans dan Stoddart. Dikatakan bahwa pengaruh langsung terhadap kesehatan perinatal meliputi faktor biologis, sikap dan perilaku, lingkungan dan faktor sosial. Faktor jauh (distal determinant) yang mempengaruhi seperti faktor genetik, lingkungan fisik, dan pengaruh lingkungan sosial. Jika faktor-faktor yang paling menentukan (proximal determinant) seperti medical responses dan behavioral responses ditemukan dan cukup bukti mengarah itu, maka intervensi dilakukan terhadap tindakan medis di rumah sakit dan perubahan perilaku di tingkat puskesmas.

Dukun juga Primadona kaum ibu hamil melahirkan.

Dari data SDKI tahun 2003 di Sulawesi Tengah jumlah persalinan yang ditolong di fasilitas kesehatan untuk Indonesia 40%, yang ditolong oleh dukun hampir 31,5% dan bidan 55,3%, sedangkan sisanya oleh dokter 0,8% dan dokter ahli 10,2%. Persoalan diatas bisa diatasi dengan intervensi perubahan perilaku dukun misalnya dengan mengoptimalisasi peran mereka di masyarakat yang awalnya sebagai penolong (provider) persalinan di tambahkan (dialih tugaskan) menjadi penghubung antara bidan dan ibu hamil. Meskipun demikian dukun sendiri diakui oleh WHO tahun 1992 sebagai seorang yang salah satunya mempunyai peran dalam mengambil keputusan (stake holder) terhadap seorang ibu hamil mengenai tempat persalinan, kapan waktunya ibu yang sedang gawat dirujuk.

Penelitian yang dilakukan di Indonesia untuk menilai kemampuan kinerja dukun dan bidan pernah dilakukan sebanyak dua kali, yang pertama oleh Alisjahbana dkk., 1995 Integrated village maternity service to improve referral patterns. dan yang kedua oleh Ronsmans dkk., 2001 Evaluation of comprehensive home-based midewifery programme. Kedua penelitian ini menilai kemampuan bidan dan dukun dalam merujuk penderita yang bisa diselamatkan dengan tindakan obstetri dan rujukan penderita dengan komplikasi. Dukun di Brazil diberikan pelatihan untuk pengenalan praktis tentang rujukan ibu hamil dengan komplikasi seperti plasenta previa, letak sungsang, dan persalinan macet atau persalinan yang lama (Araujo dkk., 1983). Dukun di Nigeria dan Ghana juga diberikan pelatihan dan keterampilan tambahan berupa antenatal care, dan pelatihan pencegahan Malaria.

Win win solution (kerjasama saling menguntungkan) yang dikembangkan juga diarahkan pada keseimbangan upah antara bidan dengan dukun. Tingkat saling peduli (care), bisa dipercaya (trush), ketulusan untuk menolong yang sakit (responsibility) antara mereka merupakan modal penggerak kerjasama.

Dukungan sosial bagi ibu hamil dan melahirkan.

Fenomena ibu hamil dari kota yang ingin melahirkan anak di kampung halamannya yang jauh dari fasilitas kesehatan juga sesuatu yang menarik. Ada seorang ibu yang ingin melahirkan di kampung halamannya dengan alasan dekat dengan orang tuanya, tetapi ada juga alasan agar anaknya nanti punya akte kelahiran di daerah asalnya. Apakah kebutuhan perasaan aman dalam melahirkan itu penting ?.

Perasaan aman dalam melahirkan merupakan aspek psikologis seorang ibu ketika mereka hamil yang mempunyai prediksi kurang menguntungkan terhadap kehamilannya. Ketakutan dan kecemasan selama kehamilan sudah terbukti berdampak pada kesehatan janin yang dilahirkan, seperti berat lahir rendah (Low Birth Weight), asfiksia neonatorum (Alehagen dkk, 2001), nilai Brazelton juga rendah. Kebutuhan persalinan yang aman dan bersih termasuk didalamnya adalah persalinan yang didampingi oleh keluarga hasilnya lebih baik. Madi seorang bidan dalam disertasinya tahun 1995 mengatakan bahwa ibu yang didampingi selama persalinan menunjukkan penggunaan analgetik yang kurang, persalinan lebih lancar, nilai Apgar lebih tinggi. Saisto tahun 2005 seorang dokter dalam disertasinya di Austria juga meneliti hal yang sama mendapatkan hasil yang sama dengan Madi walaupun tempat penelitiannya berbeda. Kemudian Hodnett dan kawan-kawan tahun 2003 merumuskan pendampingan mempunyai 4 aspek kepentingan seperti; 1. menenangkan dengan kehadiran seseorang, 2. memberi advokasi, 3. memberi advis, 4. melayani ibu melahirkan dengan memberi makan dan minum selama persalinan. Dengan demikian bukti ini menunjukkan pengaruh dukungan (social support during labour) menjadi hal yang penting untuk meningkatkan kualitas hasil kehamilan.

dr. Putu Melaya

Mahasiswa Pascasarjana

Fakultas Kedokteran UGM