KEMITRAAN BIDAN DUKUN VS PENDAMPINGAN KELUARGA DAN PENURUNAN AKI - AKB DI SULAWESI TENGAH
oleh
Putu Melaya
Tujuan pembangunan Millenium.
Banyak metode yang dikembangkan untuk mendukung usaha penurunan AKI dan AKB di Sulawesi Tengah guna mewujudkan Millenium Development Goals (MDGs) yang salah satu tujuannya yang ke empat adalah menurunkan kematian ibu tiga per empat dari tahun 1990-2015 dan kematian anak dua pertiga dari tahun 1990-2015. Salah satu upaya tersebut adalah penyebaran tenaga kesehatan keseluruh desa yang didukung dengan program Desa Siaga. Program ini berhasil baik bila menggunakan indikator kesejahteraan rakyat, seperti di kelurahan yang dekat dengan kota perlu desa siaga yang dimodifikasi, penyiapan kepekaan petugas kesehatan (bidan, perawat di desa) yang belum sepenuhnya tinggal di desa selama 24 jam, dan kepekaan para pengambil keputusan belum sepenuhnya faham tentang tanda-tanda bahaya pada ibu hamil. Pengambil keputusan yang paling dominan di daerah pedesaan (rural area) adalah pihak yang jauh dari aspek gender.
Tujuan Jangka Menengah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Presiden telah menetapkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2004-2009. Pembangunan kesehatan yang merupakan bagian dari pembangunan sumber daya kesehatan, tercantum dalam Bab 28. sasaran yang harus dicapai oleh pembangunan kesehatan adalah :
- Meningkatkan umur harapan hidup dari 66,2 tahun menjadi 70,6 tahun.
- Menurunnya angka kematian bayi dari 45 menjadi 26 per 1.000 kelahiran hidup.
- Menurunnya angka kematian ibu melahirkan dari 307 menjadi 226 per 100.000 kelahiran hidup.
- Menurunnya prevalensi gizi kurang anak balita dari 25,8% menjadi 20%.
Kesehatan Reproduksi Kaum Wanita
Berbicara tentang kesehatan reproduksi pada wanita harus memulainya dari masa prekonsepsi, masa ini juga diawali dengan masa anak-anak dan diakhiri pada masa menopause. Kesehatan perinatal yang melibatkan banyak faktor yang sering diadaptasi yang dikembangkan oleh Evans dan Stoddart. Dikatakan bahwa pengaruh langsung terhadap kesehatan perinatal meliputi faktor biologis, sikap dan perilaku, lingkungan dan faktor sosial. Faktor jauh (distal determinant) yang mempengaruhi seperti faktor genetik, lingkungan fisik, dan pengaruh lingkungan sosial. Jika faktor-faktor yang paling menentukan (proximal determinant) seperti medical responses dan behavioral responses ditemukan dan cukup bukti mengarah itu, maka intervensi dilakukan terhadap tindakan medis di rumah sakit dan perubahan perilaku di tingkat puskesmas.
Dukun juga Primadona kaum ibu hamil melahirkan.
Dari data SDKI tahun 2003 di Sulawesi Tengah jumlah persalinan yang ditolong di fasilitas kesehatan untuk Indonesia 40%, yang ditolong oleh dukun hampir 31,5% dan bidan 55,3%, sedangkan sisanya oleh dokter 0,8% dan dokter ahli 10,2%. Persoalan diatas bisa diatasi dengan intervensi perubahan perilaku dukun misalnya dengan mengoptimalisasi peran mereka di masyarakat yang awalnya sebagai penolong (provider) persalinan di tambahkan (dialih tugaskan) menjadi penghubung antara bidan dan ibu hamil. Meskipun demikian dukun sendiri diakui oleh WHO tahun 1992 sebagai seorang yang salah satunya mempunyai peran dalam mengambil keputusan (stake holder) terhadap seorang ibu hamil mengenai tempat persalinan, kapan waktunya ibu yang sedang gawat dirujuk.
Penelitian yang dilakukan di Indonesia untuk menilai kemampuan kinerja dukun dan bidan pernah dilakukan sebanyak dua kali, yang pertama oleh Alisjahbana dkk., 1995 Integrated village maternity service to improve referral patterns. dan yang kedua oleh Ronsmans dkk., 2001 Evaluation of comprehensive home-based midewifery programme. Kedua penelitian ini menilai kemampuan bidan dan dukun dalam merujuk penderita yang bisa diselamatkan dengan tindakan obstetri dan rujukan penderita dengan komplikasi. Dukun di Brazil diberikan pelatihan untuk pengenalan praktis tentang rujukan ibu hamil dengan komplikasi seperti plasenta previa, letak sungsang, dan persalinan macet atau persalinan yang lama (Araujo dkk., 1983). Dukun di Nigeria dan Ghana juga diberikan pelatihan dan keterampilan tambahan berupa antenatal care, dan pelatihan pencegahan Malaria.
Win win solution (kerjasama saling menguntungkan) yang dikembangkan juga diarahkan pada keseimbangan upah antara bidan dengan dukun. Tingkat saling peduli (care), bisa dipercaya (trush), ketulusan untuk menolong yang sakit (responsibility) antara mereka merupakan modal penggerak kerjasama.
Dukungan sosial bagi ibu hamil dan melahirkan.
Fenomena ibu hamil dari kota yang ingin melahirkan anak di kampung halamannya yang jauh dari fasilitas kesehatan juga sesuatu yang menarik. Ada seorang ibu yang ingin melahirkan di kampung halamannya dengan alasan dekat dengan orang tuanya, tetapi ada juga alasan agar anaknya nanti punya akte kelahiran di daerah asalnya. Apakah kebutuhan perasaan aman dalam melahirkan itu penting ?.
Perasaan aman dalam melahirkan merupakan aspek psikologis seorang ibu ketika mereka hamil yang mempunyai prediksi kurang menguntungkan terhadap kehamilannya. Ketakutan dan kecemasan selama kehamilan sudah terbukti berdampak pada kesehatan janin yang dilahirkan, seperti berat lahir rendah (Low Birth Weight), asfiksia neonatorum (Alehagen dkk, 2001), nilai Brazelton juga rendah. Kebutuhan persalinan yang aman dan bersih termasuk didalamnya adalah persalinan yang didampingi oleh keluarga hasilnya lebih baik. Madi seorang bidan dalam disertasinya tahun 1995 mengatakan bahwa ibu yang didampingi selama persalinan menunjukkan penggunaan analgetik yang kurang, persalinan lebih lancar, nilai Apgar lebih tinggi. Saisto tahun 2005 seorang dokter dalam disertasinya di Austria juga meneliti hal yang sama mendapatkan hasil yang sama dengan Madi walaupun tempat penelitiannya berbeda. Kemudian Hodnett dan kawan-kawan tahun 2003 merumuskan pendampingan mempunyai 4 aspek kepentingan seperti; 1. menenangkan dengan kehadiran seseorang, 2. memberi advokasi, 3. memberi advis, 4. melayani ibu melahirkan dengan memberi makan dan minum selama persalinan. Dengan demikian bukti ini menunjukkan pengaruh dukungan (social support during labour) menjadi hal yang penting untuk meningkatkan kualitas hasil kehamilan.
dr. Putu Melaya
Mahasiswa Pascasarjana
Fakultas Kedokteran UGM